Sejak tradisi abad ke-18, Garam Amed adalah salah satu harta Bali Timur sebagai bagian dari retribusi Kerajaan Klungkung.
Keunikan proses pembuatan Garam Amed terletak pada penggunaan tanah liat untuk menyaring air asin sehingga menghasilkan air asin yang pekat. Air asin ditempatkan dalam wadah yang terbuat dari batang kelapa untuk diuapkan dan dikristalkan. Penggunaan tanah liat pada saat penyaringan berkontribusi terhadap cita rasa Garam Amed.
Hanya 25 perajin garam yang saat ini masih melanjutkan tradisi ini dengan jumlah produksi terbatas yang diproduksi hanya dalam kurun waktu 4 bulan per tahun.
Kami bangga menjadi bagian dari gerakan untuk menjaga warisan pangan kita tetap hidup. (Garam Beryodium/Garam Beryodium)